Rabu, 03 April 2013

Makalah Syiah

BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar belakang
Sejarah Islam mencatat bahwa hingga saat ini terdapat dua macam aliran besar dalam Islam. Keduanya adalah Ahlussunnah (Sunni) dan Syi’ah. Tak dapat dipungkiri pula, bahwa dua aliran besar teologi ini kerap kali terlibat konflik kekerasan satu sama lain, sebagaimana yang kini bisa kita saksikan di negara-negara seperti Irak dan Lebanon.
Terlepas dari hubungan antara keduanya yang kerap kali tidak harmonis, Syi’ah sebagai sebuah mazhab teologi menarik untuk dibahas. Diskursus mengenai Syi’ah telah banyak dituangkan dalam berbagai kesempatan dan sarana. Tak terkecuali dalam makalah kali ini.

B.                 Rumusan Masalah
1.                  Apakah yang dimaksud Syi’ah?
2.                  Kapan kelompok/golongan Syi’ah muncul?
3.                  Apa saja ajaran-ajaran dalam Syi’ah?
4.                  Bagaimana pemkembangan Syi’ah?

C.        Tujuan Penulisan
1.                  Sebagai salah satu tugas mata kuliah Ilmu Kalam.
2.                  Menambah wawasan tentang perkembangan Islam.












BAB II
PEMBAHASAN

A.                Pengertian Syi’ah
Syi’ah adalah aliran sempalan dalam Islam dan Syi’ah merupakan salah satu dari sekian banyak aliran-aliran sempalan dalam Islam. Sedangkan yang dimaksud dengan aliran sempalan dalam Islam adalah aliran yang ajaran-ajarannya menyempal atau menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw, atau dalam bahasa agamanya disebut Ahli Bid’ah.[1]
Dalam riwayat lain menyebutkan, Syi’ah dilihat dari segi bahasa berarti pengikut, atau anggota kelompok, sedangkan secara terminology adalah sebagian kaum muslimin yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW atau orang yang disebut sebagai ahlul-bait Rosul.[2]
Sumber yang lain juga menjelaskan, Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang berkeyakinan bahwa yang paling berhak menjadi imam umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad Saw ialah keluarga Nabi Saw sendiri (Ahlulbait). Dalam hal ini, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib (paman Nabi saw) dan ‘Ali bin Abi Thalib (saudara sepupu sekaligus menantu Nabi saw) beserta keturunannya.[3]

B.                 Sejarah Timbulnya Syi’ah
Para penulis sejarah Islam berbeda pendapat mengenai awal mula lahirnya Syi’ah. Sebagian menganggap Syi’ah lahir langsung setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, yaitu pada saat perebutan kekuasaan antara golongan Muhajirin dan Anshar di Balai Pertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Pada saat itu muncul suara dari Bani Hasyim dan sejumlah kecil Muhajirin yang menuntut kekhalifahan bagi ‘Ali bin Abi Thalib.
Suatu riwayat menyebutkan, bahwa golongan Syi’ah muncul dikarenakan terjadinya Tahkim antara Kholifah ‘Ali dengan Mu’awiyah pada perang Siffin.[4] Dalam kelicikannya, Mu’awiyah memnangkan Tahkim tersebut. Timbullah golongan-golongan yang tidak menyetujui hasil Tahkim tersebut. Diantaranya adalah Syi’ah.
Dalam riwayat lain juga menyebutkan, dalam sejarah islam Syi’ah telah dipakai secara khusus untuk para pengikut ‘Ali. Orang pertama yang memakai istilah Syi’ah adalah Rosulullah sendiri. Rosulullah berkata kepada ‘Ali: “Kabar gembira wahai ‘Ali! Sesungguhnya engkau dan para sahabatmu dan Syi’ah(pengikut)mu akan berada di Surga.”[5]
Dengan demikian Syi’ah bukanlah sesuatu yang dibuat-buat belakangan! Nabi Muhammad Saww mengatakan bahwa pengikut sejati Imam ‘Ali akan masuk Surga dan ini merupakan kebahagiaan besar. Jabir bin Abdillah Anshari meriwayatkan bahwa Rosulullah Saww bersabda: “Syi’ah ‘Ali adalah orang-orang yang benar-benar beruntung pada hari kebangkitan.[6] Dengan demikian, menurut Syi’ah, inti dari ajaran Syi’ah itu sendiri telah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw.
Namun demikian, terlepas dari semua pendapat tersebut, yang jelas adalah bahwa Syi’ah baru muncul ke permukaan setelah dalam kemelut antara pasukan Mu’awiyah, terjadi pula kemelut antara sesama pasukan Imam ‘Ali. Di antara pasukan Imam Ali pun terjadi pertentangan antara yang tetap setia dan yang membangkang.
C.                Pokok-Pokok Ajaran Syi’ah
Doktrin-doktrin[7] yang diyakini para pengikut Syi’ah secara garis besar ada 11 macam, yaitu Ahlulbait, al-badâ’, asyura, imamah, ‘ishmah, mahdawiyah, marjâ’iyah atau wilâyah al-faqîh, raj’ah, taqiyah, tawassul, dan tawallî dan tabarrî.
1.         Ahlulbait. Secara harfiah ahlulbait berarti keluarga atau kerabat dekat. Dalam sejarah Islam, istilah itu secara khusus dimaksudkan kepada keluarga atau kerabat Nabi Muhammad Saw. Ada tiga bentuk pengertian Ahlulbait. Pertama, mencakup istri-istri Nabi Muhammad Saw dan seluruh Bani Hasyim. Kedua, hanya Bani Hasyim. Ketiga, terbatas hanya pada Nabi sendiri, ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan imam-imam dari keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Dalam Syi’ah bentuk terakhirlah yang lebih populer.[8]
2.         Al-Badâ’. Dari segi bahasa, badâ’ berarti tampak. Doktrin al-badâ’ adalah keyakinan bahwa Allah SWT mampu mengubah suatu peraturan atau keputusan yang telah ditetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru. Menurut Syi’ah, perubahan keputusan Allah itu bukan karena Allah baru mengetahui suatu maslahat[9], yang sebelumnya tidak diketahui oleh-Nya (seperti yang sering dianggap oleh berbagai pihak). Dalam Syi’ah keyakinan semacam ini termasuk kufur. Imam Ja’far al-Shadiq menyatakan, “Barangsiapa yang mengatakan Allah SWT baru mengetahui sesuatu yang tidak diketahui-Nya, dan karenanya Ia menyesal, maka orang itu bagi kami telah kafir kepada Allah SWT.” Menurut Syi’ah, perubahan itu karena adanya maslahat tertentu yang menyebabkan Allah SWT memutuskan suatu perkara sesuai dengan situasi dan kondisi pada zamannya. Misalnya, keputusan Allah mengganti Isma’il as dengan domba, padahal sebelumnya Ia memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih Isma’il as.[10]
3.         Asyura. Asyura berasal dari kata ‘asyarah, yang berarti sepuluh. Maksudnya adalah hari kesepuluh dalam bulan Muharram yang diperingati kaum Syi’ah sebagai hari berkabung umum untuk memperingati wafatnya Imam Husain bin ‘Ali dan keluarganya di tangan pasukan Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada tahun 61H di Karbala, Irak. Pada upacara peringatan asyura tersebut, selain mengenang perjuangan Husain bin ‘Ali dalam menegakkan kebenaran, orang-orang Syi’ah juga membaca salawat bagi Nabi Saw dan keluarganya, mengutuk pelaku pembunuhan terhadap Husain dan keluarganya, serta memperagakan berbagai aksi (seperti memukul-mukul dada dan mengusung-usung peti mayat) sebagai lambang kesedihan terhadap wafatnya Husain bin ‘Ali. Di Indonesia, upacara asyura juga dilakukan di berbagai daerah seperti di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatera Barat, dalam bentuk arak-arakan tabut.[11]
4.         Imamah (kepemimpinan). Imamah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi saw wafat harus ada pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi.[12] Atau, dalam pengertian ‘Ali Syari’ati, adalah kepemimpinan progresif[13] dan revolusioner[14] yang bertentangan dengan rezim-rezim[15] politik lainnya guna membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan, dan kemandirian dalam mengambil keputusan.[16] Dalam Syi’ah, kepemimpinan itu mencakup persoalan-persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Imam bagi mereka adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat. Pada umumnya, dalam Syi’ah, kecuali Syi’ah Zaidiyah, penentuan imam bukan berdasarkan kesepakatan atau pilihan umat, tetapi berdasarkan wasiat atau penunjukan oleh imam sebelumnya atau oleh Rasulullah langsung, yang lazim disebut nash.[17]
5.         ‘Ishmah. Dari segi bahasa, ‘ishmah adalah bentuk mashdar dari kata ‘ashama yang berarti memelihara atau menjaga. ‘Ishmah ialah kepercayaan bahwa para imam itu, termasuk Nabi Muhammad, telah dijamin oleh Allah dari segala bentuk perbuatan salah atau lupa.[18] ‘Ali Syari’ati mendefinisikan ‘ishmah sebagai prinsip yang menyatakan bahwa pemimpin suatu komunitas atau masyarakat, yakni, orang yang memegang kendali nasib di tangannya, orang yang diberi amanat kepemimpinan oleh orang banyak, mestilah bebas dari kejahatan dan kelemahan.[19]
6.         Mahdawiyah. Berasal dari kata mahdi, yang berarti keyakinan akan datangnya seorang juru selamat pada akhir zaman yang akan menyelamatkan kehidupan manusia di muka bumi ini. Juru selamat itu disebut Imam Mahdi. Dalam Syi’ah, figur Imam Mahdi jelas sekali. Ia adalah salah seorang dari imam-imam yang mereka yakini. Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, misalnya, memiliki keyakinan bahwa Muhammad bin Hasan al-Askari (Muhammad al-Muntazhar) adalah Imam Mahdi. Di samping itu, Imam Mahdi ini diyakini masih hidup sampai sekarang, hanya saja manusia biasa tidak dapat menjangkaunya, dan nanti di akhir zaman ia akan muncul kembali dengan membawa keadilan bagi seluruh masyarakat dunia.[20]
7.         Marja’iyyah atau Wilâyah al-Faqîh. Kata marja’iyyah berasal dari kata marja’ yang artinya tempat kembalinya sesuatu. Sedangkan kata wilâyah al-faqîh terdiri dari dua kata: wilâyah berarti kekuasaan atau kepemimpinan; dan faqîh berarti ahli fiqh atau ahli hukum Islam. Wilâyah al-faqîh mempunyai arti kekuasaan atau kepemimpinan para fiqh.[21]
8.         Raj’ah. Kata raj’ah berasal dari kata raja’a yang artinya pulang atau kembali. Raj’ah adalah keyakinan akan dihidupkannya kembali sejumlah hamba Allah swt yang paling saleh dan sejumlah hamba Allah yang paling durhaka untuk membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT di muka bumi, bersamaan dengan munculnya Imam Mahdi.[22] Sementara Syaikh Abdul Mun’eim al-Nemr mendefinisikan raj’ah sebagai suatu prinsip atau akidah Syi’ah, yang maksudnya ialah bahwa sebagian manusia akan dihidupkan kembali setelah mati karena itulah kehendak dan hikmat Allah, setelah itu dimatikan kembali. Kemudian di hari kebangkitan kembali bersama makhluk lain seluruhnya. Tujuan dari prinsip Syi’ah seperti ini adalah untuk memenuhi selera dan keinginan memerintah. Lalu kemudian untuk membalas dendam kepada orang-orang yang merebut kepemimpinan ‘Ali.[23]
9.         Taqiyah. Dari segi bahasa, taqiyah berasal dari kata taqiya atau ittaqâ yang artinya takut. Taqiyah adalah sikap berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam kehati-hatian ini terkandung sikap penyembunyian identitas dan ketidakterusterangan.[24] Konsep taqiyah adalah sebuah bagian dari islam yang integral[25], dan bukan sesuatu yang di ciptakan kaum Syi’ah.[26]
10.     Tawassul. Adalah memohon sesuatu kepada Allah dengan menyebut pribadi atau kedudukan seorang Nabi, imam atau bahkan seorang wali semua doanya tersebut cepat dikabulkan Allah swt. Dalam Syi’ah, tawassul merupakan salah satu tradisi keagamaan yang sulit dipisahkan. Dapat dikatakan bahwa hampir setiap doa mereka selalu terselip unsur tawassul, tetapi biasanya tawassul dalam Syi’ah terbatas pada pribadi Nabi saw atau imam-imam dari Ahlulbait. Dalam doa-doa mereka selalu dijumpai ungkapan-ungkapan seperti “Yâ Fâthimah isyfa’î ‘indallâh” (wahai Fathimah, mohonkanlah syafaat bagiku kepada Allah), dsb.[27]
11.     Tawallî dan tabarrî. Kata tawallî berasal dari kata tawallâ fulânan yang artinya mengangkat seseorang sebagai pemimpinnya. Adapun tabarrî berasal dari kata tabarra’a ‘an fulân yang artinya melepaskan diri atau menjauhkan diri dari seseorang. Kedua sikap ini dianut pemeluk-pemeluk Syi’ah berdasarkan beberapa ayat dan hadis yang mereka pahami sebagai perintah untuk tawallî kepada Ahlulbait dan tabarrî dari musuh-musuhnya. Misalnya, hadits Nabi mengenai ‘Ali bin Abi Thalib yang berbunyi: “Barangsiapa yang menganggap aku ini adalah pemimpinnya maka hendaklah ia menjadikan Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah belalah orang yang membela Ali, binasakanlah orang yang menghina Ali dan lindungilah orang yang melindungi Ali.” (H.R. Ahmad bin Hanbal).[28]
Dalam Riwayat lain menyebutkan doktrin-doktrin Syi’ah ada 4 yaitu Al-Ishmah, Imam Al-Mahdi/ Mahdawiyah, Ar-Raj’ah, At-Taqiyyah.[29]
Riwayat lain juga menyebutkan doktrin-doktrin Syi’ah ada 5 yaitu At-Tawhid (Keesaan Allah Ta’ala), Al-‘Adl(Keadilan Allah), An-Nubuwwah (Kenabian), Al-Imamah (Kepemimpinan Umat), Al-Ma’ad (Hari Kebangkitan.[30]
1.         At-Tawhid adalah meyakini sepenuh hati adanya Sang Pencipta alam semesta ini, baik dengan sifat-sifat-Nya. Dan bahwa Dialah Allah Yang Esa tiada berseikat bagi-Nya.[31]
2.         Al-‘Adl adalah meyakini sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala Maha Adil, tidak berbuat kejelekan, seperti kezaliman, dan Dialah Luthf[32] yang mengutus Para Nabi.[33]
3.         An-Nubuwwah adalah meyakini dengan sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala dengan Lufth mengutus para Nabi untuk membimbing manusia. Nabi Adam as sebagai Nabi Pertama. Sedangkan Nabi Muhammad bin Abdullah Saw adalah Nabi terakhir dan penutup para Nabi. Dia yang membawa syariat Allah (Islam) sebaik-baik syariat guna menjamin kehidupan manusia yang bahagia.[34]
4.         Al-Imamah adalah meyakini sepenuhnya bahwa Nabi Muhammad Saw memiliki khalifah-khalifah yang mewakili Nabi atas perintah Allah Swt untuk urusan-urusan keagamaan dan duniaserta mengelola urusan manusia. Jumlah mereka adalah 12 Imam[35], yaitu pertama, Ali bin Abi Thalib (600661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin. Kedua  Hasan bin Ali (625669) juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba. Ketiga, Husain bin Ali (626680) juga dikenal dengan Husain asy-Syahi. Keempat, Ali bin Husain (658713) juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin. Kelima, Muhammad bin Ali (676743) juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir. Keenam, Ja'far bin Muhammad (703765) juga dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq. Ketujuh, Musa bin Jafar (745799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim. Kedelapan, Ali bin Musa (765818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha. Kesembilam, Muhammad bin Ali (810835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at-Taqi. Kesepuluh, Ali bin Muhamad (827868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi. Kesebelas, Hasan bin Ali (846874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari. Keduabelas, Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi.[36]
5.         Al-Ma’ad adalah meyakini sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala akan membangkitakan jasad-jasad manusia kelak, setelah kematian untuk diminta pertanggungan-jawab atas segala perbuatan mereka di dunia, dan memberinya balasan atau siksaan yang setimpal bagi mereka yang layak menerimanya.[37]
Dari sumber yang saya temukan, tokoh Syi’ah selain Dua Belas Imam teesebut juga ada tokoh lain yaitu: Nashr bin Muhazim, Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa al-Asy’ari, Ahmad bin Abi ‘Abdillah al-Barqi, Ibrahim bin Hilal al-Tsaqafi, Muhammad bin Hasan bin Furukh al-Shaffar, Muhammad bin Mas’ud al-‘Ayasyi al-Samarqandi, Ali bin Babawaeh al-Qomi, Syaikhul Masyayikh, Muhammad al-Kulaini, Ibn ‘Aqil al-‘Ummani, Muhammad bin Hamam al-Iskafi, Muhammad bin ‘Umar al-Kasyi, Ibn Qawlawaeh al-Qomi, Ayatullah Ruhullah Khomeini, Al-‘Allamah Sayyid Muhammad Husain al-Thabathaba’I, Sayyid Husseyn Fadhlullah, Murtadha Muthahhari, ‘Ali Syari’ati, Jalaluddin Rakhmat, Hasan Abu Ammar.[38]

D.                Perkembangan Golongan Syi’ah
Sejalan dengan berlalunya waktu, semakin banyak pula pengikut syi’ah. Maka di sini berlaku sunnatullah, bahwa semakin banyak suatu kaum maka semakin besar pula potensi untuk terjadinya perbedaan yang mungkin bisa sampai mengakibatkan perpecahan. Inilah yang terjadi pada Syi’ah. Mereka terbagi menjadi beberapa sekte yang terlahir dari cara pandang mereka yang berbeda-beda pada beberapa masalah yang muncul di antara mereka. Dan masalah yang paling krusial adalah imamah. Mereka berselisih pendapat tentang siapakah yang berhak menjadi imam setelah Ali dan anak-anaknya wafat. Sehingga dari perselisihan itu melahirkan sekte-sekte[39] baru dengan pimpinannya masing-masing. Di antara sekte-sekte itu ada yang moderat[40] dan berani mengkafirkan para sahabat selain Ali.[41]
Golongan Syi’ah ternyata dalam sejarah perkembangannya terpecah-pecah diantaranya yaitu Al-Kaisaniyah, Az-Zaidiyah, Al-Imamiyah, Al-Galiyah(al-Ghulat).[42]
1.      Al-Kaisaniyah adalah sekte syi’ah yang mempercayai keimamahan Muhammad bin Hanafiyah setelah wafatnya Husein bin Ali radhiyallâhu’anhuma.[43]
2.      Az-Zaidiyah Disebut juga Lima Imam; dinamakan demikian sebab mereka merupakan pengikut Zaid bin 'Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum 'Ali tidak sah. Urutan imam mereka yaitu: Pertama, Ali bin Abi Thalib (600661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin. Kedua, Hasan bin Ali (625669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba. Ketiga, Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid. Keempat, Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin. Kelima, Zaid bin Ali (658740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali Zainal Abidin bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir.[44]
3.      Syiah Al-Imamiyah yaitu golongan Syi’ah yang mempercayai bahwa imam-imam itu ditunjuk oleh Nabi berdasarkan wasiatnya. Yaitu Sayyidina Ali dan keturunannya sampai imam ke 12, Muhammad al-Mahdi al-Muntadhar(imam Mahdi).[45]
4.      Al-Ghaliyah atau Ashab al-Ghulat, golongan Syi’ah yang ajaran-ajarannya telah melampaui batas. Mereka ada yang berpendapat bahwa imam-imam mereka mempunyai unsur ke-Tuhanan. Ada pula yang menyerupakan Tuhan dengan Makhluk-Nya.[46]
Sumber lain menyebutkan bahwa Golongan Syi’ah terpecah, diantaranya adalah Al-Kaisaniyah, Az-Zaidiyah, Al-Imamiyah, Al-Galiyah(al-Ghulat), Syi’ah Isma’iliyah[47].[48]



















BAB III
ANALISIS

            Dari cerita di atas, setidaknya ada tiga asumsi yang mendasari tentang munculnya golongan Syi’ah. Pertama, Sebagai bukti, pertempuran Ali dengan Muawiyah terhenti setelah Muawiyah mengangkat Al-Quran sebagai tanda perdamaian. Kedua, perebutan kekuasaan antara golongan Muhajirin dan Anshar di Balai Pertemuan Saqifah Bani Sa’idah, Setelah Rosulullah wafat. Pada saat itu pula muncul suara dari Bani Hasyim dan sejumlah kecil Muhajirin yang menuntut kekhalifahan bagi ‘Ali bin Abi Thalib. Ketiga, golongan Syi’ah sudah ada sejak Rosulullah masih hidup. Dengan dikuatkannya bukti periwayat yang menjelaskan, orang pertama yang memakai istilah Syi’ah adalah Rosulullah sendiri. Rosulullah berkata kepada Ali: “Kabar gembira wahai Ali! Sesungguhnya engkau dan para sahabatmu dan Syi’ah(pengikut)mu akan berada di Surga.

















BAB IV
PENUTUP

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. Doktrin-doktrin yang diyakini para pengikut Syi’ah secara garis besar ada 11 macam, yaitu konsepsi tentang Ahlulbait, al-badâ’, asyura, imamah, ‘ishmah, mahdawiyah, marjâ’iyah atau wilâyah al-faqîh, raj’ah, taqiyah, tawassul, dan tawallî dan tabarrî yang dalam banyak hal memiliki perbedaan (pemahaman) dengan kalangan Sunni. Dalam Syi’ah terdapat berbagai macam sekte/kelompok yang memiliki perbedaan satu sama lain dalam memandang ajaran-ajaran seperti tertulis di atas.
Wallâhu a’lam bi al-shawâ
Dengan ini kita semua dapat menambah wawasan tentang Islam. Tetapi penulis tidak berharap makalah ini menjadi bukti pegangan si pembaca. Karena makalah ini jauh dari sempurna, masih banyak sekali kekurangan, makalah ini hanya menukil sebagian kecil sejarah Islam.
Penulis sangat berharap adanya kritik dan saran yang membangun. Terimakasih.











Referensi

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 1997. Ensiklopedi Islam Jilid 5. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.
Musawa, Hasan. 2010. Fiqih Praktis. Jakarta: Suluh.
Muhammad Amin Suma dan Taufik Abdullah. 2003. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Jilid 3. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.
Nasir, Sahilun A. 2010. Pemikiran Kalam. Jakarta: Rajawali Pers.
Suhud, Rofik, dkk. 2005. Antologi Islam. Jakarta: Al-Huda.
Syari’ati, Ali. 1995. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi. Bandung: Mizan Pustaka.
Trisno Yuwono dan Pius Abdullah. 1994. KAMUS LENGKAP BAHASA INDONESIA PRAKTIS. Surabaya: Arkola.
http://id.wikipedia.org/wiki/Syi%27ah. Diakses 22 April 2012 pukul  10.00 WIB
http://www.al-shia.com. Diakses 22 April 2012 pukul 10.13 WIB.
http://www.scribd.com/doc/22741076/ALIRAN-SYIAH. Diakses 21 April 2012 pukul 09.30 WIB.


[2]Rofik Suhud, dkk, Antologi Islam, (Jakarta: Al-Huda,2005), hlm. 197.
[3]Muhammad Amin Suma, dalam Taufik Abdullah, ed., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Jilid 3 (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2003), hlm. 343.
[4]Sahilun A. NAsir, Pemikiran Kalam (Jakarta: Rajawali Pers, 2010).
[5]Rofik Suhud, opcit, hlm. 199.
[6]Ibid.
[7]Doktrin adalah ajaran yang meliputi tentang asas-asas politik, keagamaan, dan ketatanegaraan yang berkaitan dengan kebujaksanaan Negara.
[8]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam Jilid 5, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,  1997),  hlm. 10.
[9]Maslahat adalah sesuatu yang mendatangkan kebaikan(keselamatan); faedah;guna.
[10]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, opcit, hlm. 10-11.
[11]Ibid,  hlm. 11.
[12]Ibid.
[13]Progresif adalah haluan maju.
[14]Revolusioner adalah menghendaki perubahan  secara menyeluruh dan mendasar.
[15]Rezim adalah Pemerintah yang berkuasa atau tata pemerintahan Negara.
[16]Ali Syari’ati, Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, (Bandung: Mizan Pustaka, 1995), hlm. 65.
[17]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, opcit, hlm. 11.
[18]Ibid.
[19]Ali Syari’ati, opcit, hlm. 62.
[20]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, opcit, hlm. 11-12.
[21]Ibid, hlm. 12.
[22]Ibid.
[24]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, opcit, hlm. 12-13.
[25]Integral adalah mengenai keseluruhan; meliputi seluruh bagian yang perlu untuk menjadikan lengkap; bulat; sempurna; utuh.
[26]Rofik Suhud, loc.cit,  hlm. 743.
[27]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, opcit, hlm. 13.
[28]Ibid.
[29]Sahilun A. NAsir, loc.cit, hlm. 86-102.
[30]Hasan Musawa, Fiqih Praktis, (Jakarta: Suluh, 2010), hlm. 1.
[31]Ibid.
[32]Lutfh artinya kelembutan.
[33]Hasan Musawa, opcit.
[34]Ibid.
[35]Ibid, hlm. 1-2.
[36]Ibid, hlm. 2-3.
[37]Ibid, hlm. 2.
[39]Sekte adalah mazdhab.
[40]Moderat adalah bersikap lunak, tidak mau bertindak keras.
[42]Sahilun A. NAsir, loc.cit, hlm. 102.
[45]Sahilun A. NAsir, opcit, hlm. 115.
[46]Ibid, hlm. 120.
[47]Mereka berpendapat bahwa yang berhak menjadi imam setelah Al-Shadiq ialah Isma’il anaknya. Mereka berselisih tentang kematiannya semasa ayahnya masih hidup. Ada yang berpendapat, ia benar-benar mati dan imamah diwariskan kepada anak-anak dan keturunannya. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa kematiannya hanya taqiyah saja agar ia tidak dibunuh oleh pemerintah. Diantara keyakinan mereka ialah siapa saja yang mati dalam keadaan tidak mengenal imam pada zamannya, maka ia mati seperti matinya jahiliyyah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar